Negara Indonesia adalah negara tropis
yang mengalami dua musim setiap tahunnya yaitu musim hujan dan musim
kemarau. Pada saat musim hujan air melimpah diatas daratan Indonesia bahkan
dapat dikatakan kelebihan air yang tak jarang mengenang diatas badan jalan
hampir diseluruh daerah dataran rendah di Indonesia bahkan di Ibu Kota negara
yaitu Jakarta. Namun pada saat musim
kemarau air adalah barang langka yang harganya melambung naik terutama air
bersih, sehingga masyarakat kewalahan dalam hal kekurangan air bersih.
Air tanah memiliki peran
penting dalam kehidupan dan penghidupan manusia, karena berfungsi sebagai salah
satu kebutuhan pokok sehari-hari. Oleh karena itu dalam pengelolaannya perlu
diatur melalui perangkat-perangkat hukum atau regulasi untuk mewujudkan keseimbangan
antara konservasi dan pendayagunaan air.
Dalam pemanfaatan air tanah,
perlu dipelajari potensi air tanah yaitu dari imbuhan air tanah alamiah,
kondisi hidrogeologi dan karakteristik hidraulik akuifer. Jumlah imbuhan air
tanah tahunan merupakan hasil perkalian dari curah hujan rata-rata tahunan
dengan koefisien imbuhan (Encona Eng. Inc dkk, 1988). Kondisi hidrogeologi yang
dimaksud adalah lapisan pengandung air (akuifer). Terdapat macam-macam akuifer
yang dijumpai di lapangan (Soenarto, 2008) yaitu akuifer terkekang, akuifer
semi terkekang dan akuifer bebas. Karakteristik hidraulik yang dimaksud adalah
transmisivitas (t), kelulusan
hidraulik (h) dan koefisien kandungan
atau simpanan pada akuifer terkekang atau lepasan jenis ( atau specific
yield) pada akuifer bebas.
Pendayagunaan air di Indonesia secara keseluruhan masih terbilang buruk, hal itu tampak dari persediaan air pada musim. Adakalanya musim penghujan air melimpah, bahkan sampai menyebabkan banjir. Sedangkan pada musim kemarau air menghilang, baik terserap kedalam tanah maupun terevaporasi. Untuk menjaga keseimbangan air tanah di Indonesia perlu dilakukannya suatu tindakan yang dapat menjaga kestabilan air untuk pemenuhan kebutuhan air penduduk.
Berikut adalah beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga keseimbangan air :
A. Pembangunan Hutan
Pembangunan hutan dapat menjaga keseimbangan air jika pembangunan hutan dilaksanakan secara bijaksana dengan memperhatikan :
- Jenis pohon yang ditanam disesuaikan antara tingkat transpirasi jenis tersebut dengan jumlah curah hujan areal penanaman. Misalnya jika jenis yang ditanam mempunyai evapotranpirasi sebesar 3000 mm/tahun, maka jenis tersebut hanya dapat ditanam pada daerah dengan curah hujan > 3000 mm/tahun, karena jika ditanam pada daerah dengan curah hujan < 3000 mm/tahun, maka daerah tersebut akan mengalami defisit air.
- Penanaman hutan sebaiknya menciptakan strata tajuk, paling tidak ada dua strata, yaitu strata kanopi pohon dan strata tumbuhan penutup tanah. Dengan kombinasi bentuk daun yang runcing dan sempit serta dengan adanya strata tajuk tersebut dapat memperkecil massa dan kecepatan butir air hujan yang jatuh ke lantai hutan. Jika lantai hutan penuh dengan tumbuhan penutup tanah, serasah dan humus, maka pembangunan hutan tersebut dapat mengurangi aliran permukaan (air larian) dan dapat meningkatkan infiltrasi air (suplesi air). Dengan berkurangnya air larian dan meningkatnya suplesi air maka pembangunan hutan dapat mengurangi bahaya banjir dan erosi serta meningkatkan air simpanan (air tanah).
B. Pencegahan Banjir
Pencegahan banjir menyebabkan siklus air terjaga dengan baik, air tidak sampai menganggu kehdupan manusia. adapun caranya adalah sebagai berikut:
Salah
satu penyebab banjir adalah karena banyaknya sampah yang ada di drainase/sungai
sehingga menyumbat aliaran air. Lihat kondisi semau sungai yang ada di jakarta,
menyempit sisi kanan-kiri bantaran sungai dibangun menjadi lingkungan
kumuh tanpa ada larangan pihak kelurahan atau dinas terkait. Juga terdapatnya
tumpukkan sampah karena rendahnya kesadaran lingkungan dengan seenaknya
membuang sampah ke sungai. Jika Anda ingin mengurangi bahaya banjir di
lingkungan rumah Anda. Anda dapat membersihkan got atau saluran air yang ada di
sekitar rumah dengan bekerja bakti setiap mingggu bersama warga, sehingga tidak
ada sampah yang menyumbat air dan air hujan akan mengalir dengan lancar.
- Buat lubang biopori/sumur resapan
Lubang
biopori dapat membantu Anda untuk meresapkan air hujan lebih banyak ke dalam
tanah. Jika Anda kesulitan mendapatkan alat pembuat lubang biopori, Anda dapat
membuat lubang menggunakan sekop. Hasilnya memang tidak akan bulat, namun Anda
dapat mengecilkan lubang yang dbuat dengan menambahkan tanah pada sisi-sisi
lubang yang dibuat. Lalu tambahkan dedaunan dan sampah organik agar cacing bisa
membuat tanah sekitar lubang menjadi gembur karena memakan sampah-sampah organik
yang ada di lubang. Anda juga bisa membuat resapan air yang lebih besar seperti
septitank air hujan yang mengalir dari talang rumah dialirkan ke sumur resapan,
sehingga air hujan tidak menggenangi jalanan. Dengan begitu, air hujan akan
banyak terserap di dalam tanah.
- Tanam bambu/pohon
Tak
banyak orang mengetahui jika pohon bambu merupakan salah satu tanaman
konservasi air. Batangnya yang bolong dan beruas-ruas digunakan untuk
menyimpan air saat kandungan air dalam tanah telah penuh dan saat musim kemarau,
bambu akan melepaskan air yang telah diserapnya. Selain itu, bambu mampu
menghasilkan oksigen lebih banyak di udara, sekitar 35 persen.
Anda
dapat menanam bambu sebagai pagar rumah atau di tepi-tepi pagar rumah. Jika di
sekitar drainase di lingkungan rumah masih ada lahan tersisa, Anda dapat
menanam bambu di bagian tersebut.Anda juga bisa menanam pohon disekitar
lingkungan atau rumah anda, karena pohon mampu menyimpan air hujan dan
mencadangkanya dimusim kemarau selain itu pohon juga menghasilkan oksigen dan
menyerap polusi serta membuat sekitarnya adem tidak terik serasa digurun pasir.
- Perbanyak lahan tanah di pekarangan
Tutupi
tanah di pekarangan dengan rumput, lalu tanami dengan berbagai tanaman. Anda
dapat menggunakan paving block di tempat-tempat tertentu, misalnya
tempat untuk berpijak agar alas kaki tidak kotor saat tanah becek. Membiarkan
tanah di pekarangan rumah tertutupi oleh rumput atau tanaman lainnya, dapat
membantu tanah menyerap lebih banyak air hujan. Sehingga cadangan air di dalam
tanah kian bertambah.
C. Pembuatan Tempat Penampungan Air
Dengan membuat tempat penampungan air seperti waduk, bendungan, atau situ dapat menjaga debit air agar tidak hilang pada saat musim kemarau. Dengan demikian masyarakat tidak perlu khawatir apabila musim kemarau tiba. Sedangkan pada saat musim hujan air yang jatuh dari langit dapat tertampung di dalam waduk dan pada saat musim kemarau air dapat dipergunakan.
Sekian tata cara menjaga keseimbangan air semoga bermanfaat untuk kita semua.
Sumber:
http://informasi-kehutanan.blogspot.com/2012/10/hutan-dan-keseimbangan-air.html
http://warasfarm.wordpress.com/2012/11/09/cara-mencegah-banjir-dengan-kearifan-lingkungan/